MAKALAH
BAHASA INDONESIA
EJAAN
BAHASA INDONESIA YANG DISEMPURNAKAN
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan pada kita semua
sehingga penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dimana makalah ini
membahas tentang ragam bahasa.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh
dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran dari banyak pihak sangat kami
harapkan untuk menyempurnakan makalah ini.
Akhirnya, ucapan terima kasih kami sampaikan kepada
semua pihak yan telah membantu dalam pembuatan makalah ini, kami harapkan
makalah ini dapat bermanfaat dan mampu menambah wawasan bagi semua semua orang.
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR................................................................................ i
DAFTAR ISI................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................... 1-2
A.
Latar Belakang Masalah..................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah.............................................................................. 2
C.
Tujuan
Penulisan................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN........................................................................... 3-23
A.
Pemakaian Huruf................................................................................ 5
B.
Penulisan Huruf.................................................................................. 9
C.
Penulisan
Kata.................................................................................... 14
BAB III PENUTUP................................................................................... 24
A.
Kesimpulan......................................................................................... 24
B.
Saran................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 25
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD)
pada dasarnya merupakan ejaan bahasa Indonesia hasil dari penyempurnaan
terakhir atas ejaan-ejaan yang pernah berlaku di Indonesia. Sebelum EYD
diberlakukan di Indonesia pernah berlaku ejaan Ch. A. Van Ophuysen, ejaan
Republik (ejaan Soewandi) dan ejaan Malindo.
Adapun yang
disempurnakan itu bukan bahasa Indonesianya, melainkan ejannya yakni tata cara
penulisan yang baku.
Selama ini belum
semua orang mematuhi kaidah yang tercantum dalam EYD, baik karena belum tahu,
enggan mematuhi atau karena ada pedoman yang mereka pegang selama ini yang
mereka anggap pedoman itu sudah tepat. Tindakan seperti ini jelas dapat
mengacaukan perkembangan bahasa Indonesia. Padahal dengan diberlakukannya EYD,
seharusnya setiap warga negara Indonesia, termasuk warga pengadilan sebagai
pemakai bahasa Indonesia wajib mengikuti dan mematuhi kaidah-kaidah yang tercantum di dalamnya.
Dalam rangka
menyebarluaskan dan memasyarakatkan EYD itulah dalam kaitan dengan teknik
penulisan karya ilmiah, tulisan ini terbit. Diharapkan tulisan ini dapat
memberikan manfaat dan petunjuk praktis bagi masyarakat di semua lingkungan
dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tentu
saja tulisan ini tidak luput dari kekurangan dan diperlukan sumbangan pemikiran
dari para pembaca.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan pada
latar belakang masalah ini, permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini
adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pemakaian
huruf yang benar sesuai dengan pedoman EYD?
2. Bagaimana penulisan
huruf yang benar sesuai dengan pedoman EYD?
3. Bagaimana penulisan
kata yang benar sesuai dengan pedoman EYD?
C.
Tujuan Penulisan
Pada
makalah ini penulis menguraikan bentuk tulisan dengan tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui
bagaimana pemakaian huruf yang benar sesuai dengan pedoman EYD.
2. Untuk mengetahui
bagaimana penulisan huruf yang benar sesuai dengan pedoman EYD.
3. Untuk mengetahui
bagaimana penulisan kata yang benar sesuai dengan pedoman EYD.
BAB II
PEMBAHASAN
Ejaan ialah penggambaran bunyi bahasa
dengan kaidah tulis-menulis yang distandardisasikan. Lazimnya, ejaan mempunyai
tiga aspek, yakni aspek fonologis yang menyangkut penggambaran fonem dengan
huruf dan penyusunan abjad aspek morfologi yang menyangkut penggambaran
satuan-satuan morfemis dan aspek sintaksis yang menyangkut penanda ujaran tanda
baca. Keraf mengatakan bahwa ejaan ialah keseluruhan
peraturan bagaimana menggambarkan lambang-lambang bunyi ujaran dan bagaimana
interrelasi antara lambang-lambang itu (pemisahannya, penggabungannya) dalam
suatu bahasa. Adapun menurut KBBI ejaan ialah kaidah-kaidah cara
menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dalam bentuk tulisan
(huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca. Dengan demikian, secara sederhana
dapat dikatakan bahwa ejaan adalah seperangkat kaidah tulis-menulis yang
meliputi kaidah penulisan huruf, kata, dan tanda baca.
Sampai saat ini dalam bahasa
Indonesia telah dikenal tiga nama ejaan yang pernah berlaku. Ketiga ejaan yang
pernah ada dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.
1. Ejaan van Ophuysen
2. Ejaan Republik atau
Ejaan Soewandi
3. Ejaan Bahasa Indonesia
yang Disempurnakan
Sebagaimana yang telah umum
diketahui, Ejaan van Ophuysen -- sesuai dengan namanya -- diprakarsai oleh Ch.
A. van Ophuysen, seorang berkebangsaan Belanda. Ejaan ini mulai diberlakukan
sejak 1901 hingga munculnya Ejaan Soewandi. Ejaan van Ophuysen ini merupakan
ejaan yang pertama kali berlaku dalam bahasa Indonesia yang ketika itu masih
bernama bahasa Melayu.
Sebelum ada ejaan tersebut, para
penulis menggunakan aturan sendiri-sendiri di dalam menuliskan huruf, kata,
atau kalimat. Oleh karena itu, dapat dipahami jika tulisan mereka cukup
bervariasi. Akibatnya, tulisan-tulisan mereka itu sering sulit dipahami.
Kenyataan itu terjadi karena belum ada ejaan
yang dapat dipakai sebagai pedoman dalam penulisan. Dengan demikian,
ditetapkannya Ejaan van Ophuyson merupakan hal yang sangat bermanfaat pada masa
itu.
Setelah negara kesatuan Republik
Indonesia terbentuk dan diproklamasikan menjadi negara yang berdaulat, para
ahli bahasa merasa perlu menyusun ejaan lagi karena tidak puas dengan ejaan
yang sudah ada. Ejaan baru yang disusun itu selesai pada tahun 1947, dan pada
tanggal 19 Maret tahun itu juga diresmikan oleh Mr. Soewandi selaku Menteri
PP&K (Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan). Ejaan baru itu disebut Ejaan
Republik dan dikenal juga dengan nama Ejaan Soewandi.
Sejalan dengan perkembangan
kehidupan bangsa Indonesia, kian hari dirasakan bahwa Ejaan Soewandi perlu
lebih disempurnakan lagi. Karena itu, dibentuklah tim untuk menyempurnakan
ejaan tersebut. Pada tahun 1972 ejaan itu selesai dan pemakaiannya diresmikan
oleh Presiden Soeharto pada tanggal 16 Agustus 1972 dengan nama Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan (EYD).
A. Pemakaian
Huruf
1.
Huruf
Abjad
Abjad
yang digunakan dalam bahasa Indonesia ada 26 huruf, yaitu:
|
Huruf
Abjad
|
Dibaca
|
Huruf
Abjad
|
Dibaca
|
|
A a
B b
C c
D d
E e
F f
G g
H h
I i
J j
Kk
Ll
Mm
|
a
be
ce
de
e
ef
ge
ha
i
je
ka
el
em
|
N n
O o
P p
Q q
R r
S s
T t
U u
V v
W w
X x
Y y
Z z
|
en
o
pe
ki
er
es
te
u
ve
we
eks
ye
zet
|
2.
Huruf
Vokal
Huruf
yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o,
dan u.
|
Huruf
Vokal
|
Contoh pemakaian dalam kata
|
||
|
Di Awal
|
Di Tengan
|
Di
Akhir
|
|
|
a
e*
i
o
u
|
azrar
enak
emas
itu
oleh
ulang
|
hani
petak
kena
simpan
kota
bumi
|
Ifa
sore
tipe
murni
radio
wahyu
|
3.
Huruf
Konsonan
Huruf
yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas 21 huruf, yaitu:
|
Huruf
Konsonan
|
Contoh pemakaian dalam kata
|
||
|
Di Awal
|
Di Tengan
|
Di
Akhir
|
|
|
b
c
d
f
g
h
j
k
l
m
n
p
q**
r
s
t
v
w
x**
y
z
|
bahasa
cakap
dua
fakir
guna
hari
jalan
kami
-
lekas
maka
nama
pasang
Quran
raih
sampai
tali
varia
wanita
xenon
yakin
zeni
|
sebut
kaca
ada
kafir
tiga
saham
manja
paksa
rakyat*
alas
kami
anak
apa
furqan
bara
asli
mata
lava
hawa
-
payung
lazim
|
Adab
-
abad
maaf
balig
tuah
mikraj
sesak
bapak*
kesal
diam
daun
siap
-
putar
lemas
rapat
-
-
-
-
Juz
|
* Huruf k di sini melambangkan bunyi hamzah
**
Huruf q dan x digunakan khusus untuk nama dan keperluan ilmu
4.
Huruf
Diftong
Di
dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan
oi.
|
Huruf
Diftong
|
Contoh pemakaian dalam kata
|
||
|
Di Awal
|
Di Tengan
|
Di
Akhir
|
|
|
Ai
au
oi
|
ain
aula
-
|
syaitan
saudara
boikot
|
Pandai
harimau
amboi
|
5.
Gabungan
Huruf Konsonan
Di
dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan
konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy.
|
Gabungan
Huruf
Konsonan
|
Contoh pemakaian dalam kata
|
||
|
Di Awal
|
Di Tengan
|
Di
Akhir
|
|
|
Kh
ng
ny
sy
|
khusus
ngilu
nyata
syarat
|
akhir
bangun
hanyut
isyarat
|
Tarikh
senang
-
Arasy
|
Singkatan
kata (termasuk singkatan kata asing) yang dibaca huruf demi huruf dilafalkan
menurut cara bahasa Indonesia, seperti:
|
Singkatan
|
Dibaca
|
Bukan Dibaca
|
|
ABC
BBC
ICCU
LCD
IUD
LCC
LPG
YMCA
MTQ
TV
|
a-be-ce
be-be-ce
i-ce-ce-u
el-ce-de
i-u-de
el-ce-ce
el-pe-ge
ye-em-ce-a
em-te-ki
te-ve
|
ei-bi-si
bi-bi-si
ai-si-si-yu
el-si-di
ai-yu-di
el-si-si
el-pi-ji
wai-em-si-ei
em-te-kyu
ti-vi
|
6.
Pemenggalan
Kata pada Kata Dasar
Hal
yang terpenting dalam pemenggalan
kata pada kata dasar sebagai berikut:
a. Jika
di tengah kata ada huruf vokal yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di
antara kedua huruf vokal itu.
Contoh:
Ma-in Sa-at
b. Jika
di tengah kata ada dua buah huruf konsonan yang berurutan, pemenggalannya
dilakukan di antara kedua konsonan itu.
Contoh:
Pan-dai Cap-lok
Swas-ta Ap-ril
c. Jika
di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalannya
dilakukan di antara konsonan yang pertama (termasuk ng) dengan huruf konsonan yang kedua.
Contoh:
In-stru-men in-tra
Bang-krut ben-trok
d. Imbuhan,
termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk, serta partikel yang biasanya
ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris.
Contoh:
Lapa-ngan beri-kan
Mem-bangun pergi-lah
e. Jika
suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat
bergabung dengan unsur lain, pemenggalan dapat dilakukan (1) di antara
unsur-unsur itu atau (2) pada unsur gabungan itu sesuai dengan kaidah a, b, c, dan
d diatas.
Contoh:
Biografi bio-grafi bi-o-gra-fi
Kilogram kilo-gram ki-lo-gram
Pascapanen pasca-panen pas-ca-pa-nen
7.
Penulisan
Nama Diri
Penulisan
nama diri (nama sungai, gunung, jalan dan sebagainya) disesuaikan dengan Ejaan
Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, kecuali jika ada pertimbangan khusus.
Pertimbangan khusus itu menyangkut segi adat, hukum atau sejarah.
a. Penulisan
nama diri
Contoh:
Sungai Walanae
Gunung Bawakaraeng
Jalan Sultan Alauddin
b. Penulisan
nama diri dengan pertimbangan khusus
Contoh:
Universitas Gadjah Mada
Husni Djamaluddin
NV Hadji Kalla
Dji Sam Soe
Tjahaja Satoe Lima
B. Penulisan
Huruf
1.
Huruf
Kapital atau Huruf Besar
Dalam
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan terdapat lima belas
kaidah penulisan huruf kapital. Berikut ini disajikan beberapa hal yang perlu
diperhatikan:
a. Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam menuliskan ungkapan yang
berhubungan dengan hal-hal keagamaan, kitab suci, dan nama Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Contoh:
Alloh
SWT atas
rahmat-Ku
Nabi
Muhammad SAW dengan
kuasa-Nya
Al
Qur’an dengan
izin-Mu
Akan tetapi, huruf
kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama untuk menuliskan kata-kata, seperti
imam, makmum, doa, puasa, dan misa.
Contoh:
Ia diangkat menjadi imam masjid dikampungnya.
Saya
akan mengikuti misa digereja itu.
b. Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama gelar kehormatan, keturunan, dan
keagamaan yang diikuti nama orang.
Contoh:
Sultan Hasanuddin
Andi Pangeran
Pettarani
Imam Hambali
Nabi Ibrahim
Akan tetapi, huruf
kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan,
dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.
|
Benar
|
Salah
|
|
ayahnya menunaikan
ibadah haji
sebagai
seorang sultan
|
Ayahnya menunaikan
Ibadah Haji
Sebagai
seorang Sultan
|
c. Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti
nama orang , nama instansi, atau nama tempat.
Contoh:
Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono
Gubernur
Syahrul Yasin Limpo
Rektor
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Huruf kapital
tidak dipakai sebagai huruf pertama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama
orang, nama instansi, atau nama tempat.
Contoh:
Sebagai seorang gubernur yang baru, ia berkeliling di
daerahnya untuk berkenalan dengan masyarakat yang dipimpinnya.
(bukan)
Sebagai seorang Gubernur yang baru, ia berkeliling di
daerahnya untuk berkenalan dengan masyarakat yang dipimpinnya.
d. Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa.
Contoh:
bangsa Indonesia
suku Jawa
bahasa Mandar
Perhatikan
penulisan berikut:
mengindonesiakan
kata-kata asing
keinggris-inggrisan
e. Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan
peristiwa sejarah.
Contoh:
|
Benar
|
Salah
|
|
tahun Hijriah
tahun Masehi
bulan Agustus
Perang
Diponegoro
Proklamasi
Kemerdekaan
Republik
Indonesia
|
Tahun Hijriah
Tahun Masehi
Bulan Agustus
perang Diponegoro
proklamasi kemerdekaan
republik
Indonesia
|
f. Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi.
Contoh:
|
Benar
|
Salah
|
|
Teluk Bone
Gunung
Bawakaraeng
Danau Tempe
Selat Selayar
Sungai
Jeneberang
Asia Tenggara
|
teluk Bone
gunung Bawakaraeng
danau Tempe
selat Selayar
sungai Jeneberang
asia
tenggara
|
Akan
tetapi, perhatikan penulisan berikut:
Ia berlayar
sampai ke teluk.
Jangan mandi di danau yang kotor.
Mereka
menyeberangi selat yang dangkal.
g. Huruf kapital dipakai sebagai
huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta
nama dokumen resmi.
Contoh:
Departemen Pendidikan
Nasional
Dewan Perwakilan Rakyat
Undang-Undang Dasar
Perhatikan
penulisan berikut:
Benar
Dia menjadi pegawai di
salah satu departemen.
Menurut undang-undang, perbuatan itu dapat.
Salah
Dia menjadi pegawai di
salah satu Departemen.
Menurut Undang-Undang, perbuatan itu dapat.
h. Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penghubung kekerabatan, seperti
bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai sebagai kata ganti
atau sapaan.
Contoh:
Kapan
Bapak berangkat?
Apakah
itu, Bu?
Surat
Saudara sudah saya terima.
Saya
akan disuntik, Dok?
Di
mana rumah Bu Hanifah?
Perhatikan
penulisan berikut:
Benar
Kami sedang menunggu Bu Guru.
Rumah Pak Guru terlekat di tengah-tengah kota.
Menurut keterangan Bu Dokter penyakit saya tidak parah.
Salah
Dia menjadi pegawai di
salah satu Departemen.
Menurut Undang-Undang, perbuatan itu dapat.
i. Huruf
kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Contoh:
Benar
Tahukah Anda bahwa gaji pegawai negeri
dinaikkan?
Apakah kegemaran Anda?
Salah
Tahukah anda bahwa gaji pegawai negeri
dinaikkan?
Apakah kegemaran anda?
2.
Huruf
Miring
Huruf
miring dalam cetakan, yang dalam tulisan tangan atau ketikan dinyatakan dengan
tanda garis bawah, dinyatakan untuk (1) menuliskan nama buku, majalah, dan
surat kabar yang dikutip dalam karangan (2) menegaskan atau mengkhususkan huruf
, bagian kata, atau kelompok kata, dan (3) menuliskan kata nama-nama ilmiah,
atau ungkapan asing, kecuali kata yang telah disesuaika ejaannya.
Contoh:
Sudahkah Anda membaca buku I La Galigo?
Majalah Dunia
Pendidikan sangat digemari oleh guru.
Harian Fajar
dapat merebut hati pembacanya.
Nama Latin untuk buah manggis adalah Carcinia Mangostana
C. Penulisan
Kata
Penulisan
kata yang masih perlu diperhatikan sebagai berikut:
1.
Kata
Dasar
Kata
yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Contoh:
Ibu percaya bahwa
engkau bisa
Kantor pajak penuh
sesak
Buku itu sangat tebal
2.
Kata
Turunan
a. Imbuhan
(awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Contoh:
Dikelola Penetapan
Menengok Mempermainkan
b. Jika
bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan
kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
Contoh:
Bertepuk
tangan Garis bawahi
Sebar
luaskan
c. Jika
bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus,
unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Contoh:
Menggarisbawahi Menyebarluaskan
Dilipatgandakan Penghancurleburan
d. Jika
salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasa, gabungan kata itu
ditulis serangkai.
Contoh:
Adipati Mahasiswa
Aerodinamika Mancanegara
Antarkota Narapidana
Audiogram Nonkolaborasi
Pancasila Bikarbonat
Biokimia Paripurna
Dasawarsa Poligami
Pramugari Dekameter
Prasangka Reinkarnasi
3.
Bentuk
Kata
Ulang
Bentuk
ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung (-).
Contoh:
Anak-anak buku-buku
Hati-hati huru-hara
Biri-biri lauk-pauk
Mondar-mandir porak-poranda
Kuda-kuda sayur-mayur
Ramah-tamah tukar-menukar
Kupu-kupu tukar-menukar
Laba-laba terus-menerus
Mata-mata sia-sia
4.
Gabungan
Kata
a. Gabungan
kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya
ditulis terpisah.
Contoh:
Duta
besar mata
pelajaran
Orang
tua simpang
empat
Kambing
hitam meja tulis
Persegi
panjang rumah sakit umum
b. Gabungan
kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian,
dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur
yang bersangkutan.
Contoh:
Ibu-bapak
kami anak-istri saya
c. Gabungan
kata berikut ditulis serangkai
Contoh:
Acapkali manakala
Adakalanya manasuka
Akhirulkalam mangkubumi
Alhamdulillah astagfirullah
Olahraga bagaimana
Padahal barangkali
Beasiswa peribahasa
Belasungkawa bismillah
Radioaktif saputangan
Daripada saripati
Kacamata sukarela
5.
Kata
Ganti ku, kau, mu, dan nya
Kata
ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan
kata -ku, -mu, dan –nya ditulis
serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Apa yang kumiliki boleh kauambil.
Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan
di perpustakaan.
6.
Kata
depan di, ke, dan dari
Kata
depan di, ke, dan dari ditulis
terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah
lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
Contoh:
Kain itu terletak di dalam lemari.
Bermalam semalam di sini.
Di
mana Siti sekarang.
Mereka ada di rumah.
Mari kita berangkat ke pasar.
Catatan:
kata-kata yang dicetak miring dibawah ini ditulis serangkai.
Contoh:
Si Amin lebih tua daripada Si Ahmad.
Ia masuk, lalu keluar lagi.
Bawa kemari gambar itu.
7.
Kata
si dan sang
Kata
si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Contoh:
Harimau
itu marah sekali kepada sang Kancil.
Surat
itu dikirimkan kembali kepada si
pengirim.
8.
Partikel
a. Partikel
–lah dan –kah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Bacalah
buku itu baik-baik.
Makassar adalah tempat yang indah.
Siapakah
gerangan dia?
b. Partikel
pun ditulis terpisah dari kata dari
kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Apa
pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
Jika
ibu pergi, adik pun ingin pergi.
Catatan: kelompok yang
lazim dianggap padu, misalnya adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun,
kendatipun, maupun, meskipun, seklipun, sungguhpun, dan walaupun ditulis
serangkai.
Contoh:
Adapun
sebab-sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun
juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.
c. Partikel
per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan
‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
Contoh:
Pegawai
negeri mendapat kenaikan gaji per 1
April.
Mereka
masuk ke dalam ruangan satu per satu.
Harga
kain itu Rp 2.000.00 per helai.
9.
Singkatan
dan Akronim
a. Singkatan
ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
1) Singkatan
nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat, atau pangkat diikuti
dengan tanda titik.
Contoh:
A.S.
Kramawijaya
Suman
Hs.
M.
Rais
Sukanto
S.A.
M.B.A. master
of business administration
M.Sc. master of science
S.E. sarjana ekonomi
Bpk. bapak
2) Singkatan
nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta
nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf
kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
Contoh:
DRP Dewan Perwakilan
Rakyat
PGRI Persatuan Guru Rakyat
Indonesia
GBHN Garis-Garis Besar
Haluan Negara
KTP Kartu Tanda
Penduduk
3) Singkatan
umum yang terdiri atas tiga kata atau lebih diikuti satu tanda titik.
Contoh:
dll. Dan lain-lain
dsb. Dan sebagainya
dst. Dan
seterusnya
hlm. Halaman
sda. Sama dengan atas
Yth. Yang terhormat
Tetapi:
a.n. atas nama
d.a. dengan alamat
u.b. untuk beliau
u.p. untuk perhatian
4) Lambang
kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti
tanda titik.
Contoh:
Cu kuprum
TNT trinitrotoluen
kVA kilovolt-ampere
kg kilogram
Rp rupiah
b. Akronim
ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun
gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
1) Akronim
nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya
dengan huruf kapital.
Contoh:
ABRI Angkatan
Bersenjata Republik Indonesia
LAN Lembaga Administrasi Negara
SIM Surat Izin Mengemudi
2) Akronim
nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari
deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital
Contoh:
Akabri Akademi Angkatan Bersenjata
Republik Indonesia
Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Kowani Kongres Wanita Indonesia
3) Akronim
yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan
huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
Contoh:
pemilu pemilihan umum
rapim rapat pimpinan
rudal peluru kendali
10.
Angka
dan Lambang Bilangan
a. Angka
dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim
digunakan angka Arab atau angka Romawi.
Contoh
:
Angka
Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka
Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII,
VIII, IX
b. Angka
digunakan untuk menyatakan (1) ukuran
panjang, berat, luas, dan isi, (2) satuan waktu, (3) nilai uang, dan (4) kuantitas.
Contoh:
0,5 sentimeter 1 jam 20 menit
5 kilogram pukul 15.00
10 liter tahun 1928
c. Angka
lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada
alamat.
Contoh:
Jalan
Sultan Alauddin II No.3
Hotel
Indonesia, Kamar 23
d. Angka
digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
Contoh:
Bab
I, Pasal 2, halaman 23
Surah
Yasin: 9
e. Penulisan
lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut:
Contoh:
1) Bilangan
utuh
Contoh:
Dua
belas 12
Dua
puluh dua 22
2) Bilangan
pecahan
Contoh:
Setengah ½
Tiga
perempat ¾
Satu
persen 1%
f. Penulisan
lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut.
Contoh:
Paku
Buwono X
Paku
Buwono ke-10
Paku
Buwono kesepuluh
Bab
II
Bab
ke-2
Bab
kedua
g. Penulisan
lambang bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti cara berikut (lihat juga
keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5).
Contoh:
Tahun
’50-an atau tahun lima puluhan
Uang
5000-an atau uang lima ribuan
h. Lambang
bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf
kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam
perincian dan pemaparan.
Contoh:
Amir
menonton drama itu sampai tiga kali.
Ayah
memesan tiga ratus ekor ayam.
i. Lambang
bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat
diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata
tidak terdapat pada awal kalimat.
Contoh:
Lima belas
orang tewas dalam kecelakaan itu.
Pak
Darmo mengundang 250 orang tamu.
Bukan:
15
orang tewas dalam kecelakaan itu.
Dua ratus lima puluh
orang tamu diundang Pak Darmo.
j. Angka
yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih
mudah dibaca.
Contoh:
Perusahaan
itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta
rupiah.
Penduduk
Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta
orang.
k. Bilangan
tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di
dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
Contoh:
Kantor
kami mempunyai dua puluh orang
pegawai
Di
lemari itu tersimpan 805 buku dan
majalah.
Bukan:
Kantor
kami mempunyai 20 (dua puluh) orang
pegawai.
Di lemari itu tersimpan
805 (delapan ratus lima) buku dan
majalah.
l. Jika
bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.
Contoh:
Saya lampirkan tanda
terima uang sebesar Rp 999,75 (sembilan
ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah).
Saya lampirkan tanda
terima uang sebesar 999,75 (sembilan
ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus) rupiah.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesimpulan
pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Pemakaian huruf sesuai dengan pedoman EYD
diantaranya yaitu huruf abjad, huruf vokal, huruf konsonan, huruf diftong, dan
pemenggalan kata.
2. Penulisan huruf sesuai dengan pedoman EYD
meliputi huruf kapital dan huruf miring. Huruf kapital dipakai
sebagai huruf pertama dalam menuliskan ungkapan yang berhubungan dengan hal-hal
keagamaan, kitab suci, dan nama Tuhan, termasuk
kata ganti untuk Tuhan dan lain sebagainya. Huruf miring dalam cetakan,
yang dalam tulisan tangan atau ketikan dinyatakan dengan tanda garis bawah,
dinyatakan untuk (1) menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang
dikutip dalam karangan (2) menegaskan atau mengkhususkan huruf , bagian kata,
atau kelompok kata, dan (3) menuliskan kata nama-nama ilmiah, atau ungkapan
asing, kecuali kata yang telah disesuaika ejaannya
3. Penulisan kata sesuai dengan pedoman EYD
meliputi kata dasar, kata turunan, bentuk ulang, kata ganti, kata depan, partikel,
singkatan, angka dan lambang bilangan.
B.
Saran
Tentunya dalam penyusunan makalah ini terdapat kekurangan dan
kesalahan olehnya itu :
1. Diharapkan kepada para pembaca agar memberikan perbaikan yang
semestinya demi kesempuranaan makalah ini.
2. Diharapkan agar pembaca memberikan koreksi terhadap materi-materi
EYD yang sekiranya ada tidak sesuai dengan yang sebenarnya.
3. Diharapkan kepada para pembaca untuk mencari referensi lain agar
dapat menambah wawasan.
DAFTAR PUSTAKA
Rijal, Syamsul dkk. 2008. Bahan Penyuluhan Bahasa Indonesia di
Provinsi Sulawesi Selatan. Makassar: Departemen Pendidikan Nasional Pusat
Bahasa Balai Bahasa Ujung Pandang.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa. 2003. Kamus
Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Sumber Online:
Luk.tsipil.ugm.ac.id/ta/Suwardjono/EYD.pdf
